Saturday, January 28, 2017

FERTILITAS

FERTILITAS
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Ilmu Kependudukan
Yang dibina oleh Ibu Endang Sri Redjeki dan Ibu Septa Katmawanti, S.Gz., M.Kes

Disusun Oleh:
Afiatur Rofika S.                                (140612601554)
Aulia Rahmawati                                (140612602947)
                   Lariza Puspa Kirana                                   (140612602947)
Rilo Punjung Pangestu                        (140612604365)




UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
SEPTEMBER 2014



KATA PENGANTAR
AssalamualaikumWr. Wb
Alhamdulillahirabbilalamin, segala puji hanyalah untuk Allah Tuhan sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga kami para penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Fertilitas”.
Dalam penyusunannya, kami para penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua dan segenap keluarga besar kami para penulis yang telah memberikan dukungan, kasih, dan  kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun kami para penulis berharap isi dari makalah  ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh Karena itu, kami para penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata kami para penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
WassalamualaikumWr. Wb.
 Malang, 29 September 2014


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seseorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fekunditas, sebaliknya, merupakan potensi fisik untuk melahirkan anak. Jadi merupakan lawan arti kata sterilitas. Natalitas mempunyai arti sama dengan fertilitas hanya berbeda ruang lingkupnya. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia.
Istilah fertilitias sering disebut dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang wanita dengan adanya tanda-tanda kehidupan, seperti bernapas, berteriak, bergerak, jantung berdenyut dan lain sebagainya. Sedangkan paritas merupakan jumlah anak yang telah dipunyai oleh wanita. Apabila waktu lahir tidak ada tanda-tanda kehidupan, maka disebut dengan lahir mati (still live) yang di dalam demografi tidak dianggap sebagai suatu peristiwa kelahiran.
Kemampuan fisiologis wanita untuk memberikan kelahiran atau berpartisipasi dalam reproduksi dikenal dengan istilah fekunditas. Tidak adanya kemampuan ini disebut infekunditas, sterilitas atau infertilitas fisiologis.
Pengetahuan yang cukup dapat dipercaya mengenai proporsi dari wanita yang tergolong subur dan tidak subur belum tersedia. Ada petunjuk bahwa di beberapa masyarakat yang dapat dikatakan semua wanita kawin dan ada tekanan sosial yang kuat terhadap wanita/ pasangan untuk mempunyai anak, hanya sekiat satu atau dua persen saja dari mereka yang telah menjalani perkawinan beberapa tahun tetapi tidak mempunyai anak. Seorang wanita dikatakan subur jika wanita tersebut pernah melahirkan paling sedikit seorang bayi.
Pengukuran fertilitas lebih kompleks dibandingkan dengan pengukuran mortalitas (kematian) karena seorang wanita hanya meninggal sekali, tetapi dapat melahirkan lebih dari seorang bayi. Kompleksnya pengukuran fertilitas ini karena kelahiran melibatkan dua orang (suami dan istri), sedangkan kematian hanya melibatkan satu orang saja (orang yang meninggal). Seseorang yang meninggal pada hari dan waktu tertentu, berarti mulai saat itu orang tersebut tidak mempunyai resiko kematian lagi. Sebaliknya, seorang wanita yang telah melahirkan seorang anak, tidak berarti resiko melahirkan dari wanita tersebut menurun.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dan konsep dari fertilitas?
2. Apa sumber-sumber data fertilitas?
3. Apa ukuran-ukuran dari fertilitas?
4. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas?
5. Bagaimana standarisasi ukuran fertilitas?
6. Bagaimana pengaruh fertilitas terhadap masalah kesehatan?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami definisi dan konsep dari fertilitas
2. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami sumber-sumber data dari fertilitas
3. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami ukuran-ukuran dar fertilitas
4. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas
5. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami standarisasi ukuran fertilitas
6. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pengaruh fertilitas terhadap kesehatan






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan  konsep fertilitas
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seseorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fekunditas, sebaliknya, merupakan potensi fisik untuk melahirkan anak. Jadi merupakan lawan arti kata sterilitas. Natalitas mempunyai arti sama dengan fertilitas hanya berbeda ruang lingkupnya. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia.
Istilah fertilitias sering disebut dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang wanita dengan adanya tanda-tanda kehidupan, seperti bernapas, berteriak, bergerak, jantung berdenyut dan lain sebagainya. Sedangkan paritas merupakan jumlah anak yang telah dipunyai oleh wanita. Apabila waktu lahir tidak ada tanda-tanda kehidupan, maka disebut dengan lahir mati (still live) yang di dalam demografi tidak dianggap sebagai suatu peristiwa kelahiran.
Konsep-konsep Fertilitas
Dalam buku Dasar-dasar Demografi terbitan FE UI, dijelaskan konsep-konsep penting yang harus dipegang dalam mengkaji fenomena fertilitas, diantaranya:
  1. Lahir hidup (Life Birth), menurut WHO, adalah suatu kelahiran seorang bayi tanpa memperhitungkan lamanya di dalam kandungan, dimana si bayi menunjukkan tanda-tanda kehidupan, misal : bernafas, ada denyut jantungnya atau tali pusat atau gerakan-gerakan otot.
  2. Lahir mati (Still Birth) adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
  3. Abortus adalah kematian bayi dalam kandungan dengan umur kurang dari 28 minggu. Ada dua macam abortus : disengaja (induced) dan tidak disengaja (spontaneus). Abortus yang disengaja mungkin lebih sering kita kenal dengan istilah aborsi dan yang tidak disengaja lebih sering kita kenal dengan istilah keguguran.
  4. Masa reproduksi (Childbearing age) adalah masa dimana perempuan melahirkan, yang disebut juga usia subur (15-49 tahun).

Namun, Tim Kompre Angkatan 51 memiliki konsep yang agak berbeda terkait kematian bayi, yakni :
·         Kematian bayi intra uterin (di dalam kandungan ibu), terdiri dari:
  1. Abortus   : kematian janin  menjelang dan sampai pada kandungan berumur 16 minggu.
  2. Immatur  : kematian janin antara umur kandungan di atas 16 minggu sampai 28 minggu.
  3. Prematur : kematian janin di dalam kandungan pada umur kandungan di atas 28 minggu sampai waktu lahir
·         Kematian bayi extra uterin (di luar kandungan ibu), terdiri dari:
  1. Lahir mati (still birth) : jika bayi yang lahir setelah cukup masanya, tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan
  2. Kematian baru lahir (neonatal death) atau kematian endogen : kematian sebelum bayi berumur 1 bulan yang biasanya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa bayi sejak lahir.
  3. Kematian lepas baru lahir (post neonatal death) : kematian bayi setelah berumur 1 bulan tetapi kurang dari 1 tahun yang biasanya disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan lingkungan luar.
Description: Capture2




2.2  Sumber-sumber data fertilitas

§  Registrasi :
Pencatatan peristiwa vital yang dilakukan secara continue berdasarkan laporan dari penduduk ( di Indonesia pencatatan ini di lakukan di kelurahan)
         Data yang tersedia  Statistik kelahiran
         Kelemahan:
        Ketepatan definisi dan aplikasi
        Kelengkapan registrasi
        Ketepatan alokasi tempat
        Ketepatan alokasi waktu
        Ketepatan pengelompokan kelahiran berdasarkan karakteristik ekonomi demografi.

§  Sensus Penduduk:
Pencacahan seluruh penduduk yang tercakup dalam suatu wilayah, di Indonesia dilakukan 10 tahun sekali
·         Data yang tersedia :
-          komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin
-          jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup
-          jumlah anak yang dilahirkan satu tahun yang lalu
·         Kelemahannya : keterangan jumlah anak tergantung daya ingat ibu (recall bias), banyaknya anak yang lahir satu tahun yang lalu, kesalahan pelaporan umur.

§  Survei:
-          Pengumpulan data  disesuaikan dengan kebutuhan/keperluan
-          Dapat dilakukan kapan saja
-          Di wilayah tertentu
-          Data yang tersedia di sensus pada umumnya juga ada di survai
         Keterangan tambahan mengenai fertilitas lebih rinci- riwayat kelahiran, status kehamilan, keguguran , siapa yang menolong persalinan, dimana melahirkan dll
         Kelemahannya sama dengan di Sensus, karena yang ditanyakan adalah peristiwa yang sudah lampau, ada kemungkinan lupa, salah atau tidak tepat informasinya.

Data Fertilitas yang bersifat Nasional
         Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000, 2010
         Supas (Survai Antar Sensus) - 1976, 1985, 1995, 2005
         Susenas (Survai Sosial Ekonomi Nasional dilaksanakan setiap tahun)
         Survai  (Survai Fertilitas dan Mortalitas Indonesia 1973, Survai Prevalensi Kontrasepsi Indonesia (SPI)1987, Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)  1991, 1994, 1997, 2002, 2007)
          Indonesian Family Life Survey (IFLS)/Sakerti 1993, 1997 dan 1998, dan IFLS 2000, 2007

2.3 Ukuran-ukuran fertilitas
 Pengukuran fertilitas memiliki dua macam pengukuran, yaitu pengukuran fertilitas tahunan dan pengukuran fertilitas kumulatif. Pengukuran fertilitas tahunan (vital rates) adalah mengukur jumlah kelahiran pada tahun tertentu yang dihubungkan dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan pada tahun tersebut. Sedangkan pengukuran fertilitas kumulatif adalah mengukur jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang wanita hingga mengakhiri batas usia subur.

A.  Ukuran-ukuran Fertilitas Tahunan
1.    Tingkat Fertilitas Kasar (Crude Birth Rate)
Tingkat fertilitas kasar adalah banyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap 1.000 penduduk pada pertengahan tahun. Dalam ukuran CBR, jumlah kelahiran tidak dikaitkan secara langsung dengan penduduk wanita, melainkan dengan penduduk secara keseluruhan.

CBR = BPm x k

dimana:
CBR  = Tingkat Kelahiran Kasar
Pm    = Penduduk pertengahan tahun
k        = Bilangan konstan yang biasanya 1.000
B       = Jumlah kelahiran pada tahun tertentu

Adapun kelemahan dalam perhitungan CBR yakni tidak memisahkan penduduk laki-laki dan penduduk perempuan yang masih kanak-kanak dan yang berumur 50 tahun ke atas. Jadi angka yang dihasilkan  sangat kasar. Sedangkan  kelebihan dalam penggunaan ukuran CBR adalah perhitungan ini sederhana, karena hanya memerlukan keterangan tentang jumlah anak yang dilahirkan dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun.

2.    Tingkat Fertilitas Umum (General Fertility Rate)        
Tingkat fertilitas umum mengandung pengertian sebagai jumlah kelahiran (lahir hidup) per 1.000 wanita usia produktif (15-49 tahun) pada tahun tertentu. Pada tingkat fertilitas kasar masih terlalu kasar karena membandingkan jumlah kelahiran dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Tetapi pada tingkat fertilitas umum ini pada penyebutnya sudah tidak menggunakan jumlah penduduk pada pertengahan tahun lagi, tetapi jumlah penduduk wanita pertengahan tahun umur 15-49 tahun.
GFR = BPf (15-49) x k

atau
GFR = Jumlah kelahiran pada tahun tertentuJumlah penduduk wanita umur 15-49 pada pertengahan tahun x k
dimana:
GFR           = Tingkat Fertilitas Umum
B                = Jumlah kelahiran
Pf (15-49)       = Jumlah penduduk wanita umur 15-49 tahun pada pertengahan tahun
k                 = Bilangan konstanta yang bernilai 1.000

Kelemahan dari penggunaan ukuran GFR adalah ukuran ini tidak membedakan kelompok umur, sehingga wanita yang berumur 40 tahun dianggap mempunyai resiko melahirkan yang sama besar dengan wanita yang berumur 25 tahun. Namun kelebihan dari penggunaan ukuran ini ialah ukuran ini cermat daripada CBR karena hanya memasukkan wanita yang berumur 15-49 tahun atau sebagai penduduk yang “exposed to risk”.

3.    Tingkat Fertilitas menurut Umur (Age Specific Fertility Rate)
Diantara kelompok wanita reproduksi (15-49 tahun) terdapat variasi kemampuan melahirkan, karena itu perlu dihitung tingkat fertilitas wanita pada tiap-tiap kelompok umur. Dengan mengetahui angka-angka ini dapat pula dilakukan perbandingan fertilitas antar penduduk dari daerah yang berbeda.

ASFRi = BiPfi x k

atau
ASFRi = Jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur iJumlah wanita kelompok umur i pada pertengahan tahun  x k
dimana:
ASFRi   = Tingkat Fertilitas menurut Umur
Bi                               = Jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur i
Pfi             = Jumlah wanita kelompok umur i pada pertengahan tahun
k            = Angka konstanta, yaitu 1.000

Berdasarkan dua kondisi di atas dapatlah disebutkan beberapa masalah (terkait dengan SDM) sebagai berikut :
1)   Jika fertilitas semakin meningkat maka akan  menjadi beban pemerintah dalam hal penyediaan aspek fisik misalnya fasilitas kesehatan ketimbang aspek intelektual.
2)   Fertilitas meningkat maka pertumbuhan penduduk akan semakin meningkat tinggi akibatnya bagi suatu negara berkembang akan menunjukan korelasi negatif dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.
3)   Jika ASFR 20-24 terus meningkat maka akan berdampak kepada investasi SDM yang semakin menurun.

Adapun kelebihan dari penggunaan ukuran ASFR antara lain :
a.    Ukuran lebih cermat dari GFR karena sudah membagi penduduk yang “exposed to risk” ke dalam berbagai kelompok umur.
b.    Dengan ASFR dimungkinkan pembuatan analisa perbedaan fertilitas (current fertility) menurut berbagai karakteristik wanita.
c.    Dengan ASFR dimungkinkan dilakukannya studi fertilitas menurut kohor.
d.   ASFR ini merupakan dasar untuk perhitungan ukuran fertilitas dan reproduksi selanjutnya (TFR, GRR, dan NRR).

Namun dalam pengukuran ASFR masih terdapat beberapa kelemahan diantaranya yaitu:
a.    Ukuran ini membutuhkan data yang terperinci yaitu banyaknya kelahiran untuk tiap kelompok umur sedangkan data tersebut belum tentu ada di tiap negara/daerah, terutama negara yang sedang berkembang. Jadi pada kenyataannya sukar sekali mendapatkan ukuran ASFR.
b.    Tidak menunjukkan ukuran fertilitas untuk keseluruhan wanita umur 15-49 tahun.

4.    Tingkat Fertilitas menurut Urutan Kelahiran (Birth Order Specific Fertility Rate)
Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran sangat penting untuk mengukur tinggi rendahnya fertilitas suatu negara. Kemungkinan seorang istri menambah kelahiran tergantung pada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup.

BOSFR = Jumlah kelahiran urutan ke iJumlah wanita umur 15-49 pertengahan tahun
atau
BOFR=BoiPf(15-49) x k
dimana:
BOSFR                                                                                 = Tingkat Fertilitas menurut Urutan Kelahiran
Boi            = Jumlaha kelahiran urutan ke 1
Pf (15-49) = Jumlah wanita umur 15-49 pertengahan tahun
k            = Bilangan konstan bernilai 1.000

B.  Ukuran-ukuran Fertilitas dan Reproduksi secara Kumulatif
1.    Total Fertility Rate (TFR)
Total Fertility Rate/ TFR adalah rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita sampai akhir masa reproduksinya. Rumus perhitungan TFR yaitu sebagai berikut.
TFR=5ASFR x
Keterangan :
TFR       = Angka Fertilitas Total
ASFR    = Angka Fertilitas Menurut kelompok umur
X            = Kelompok umur
Kebaikannya :
Merupakan ukuran untuk seluruh wanita usia 15-49 tahun, yang dihitung berdasarkan angka kelahiran menurut kelompok umur.

2.    Gross Reproduction Rate/ GRR
Angka yang menunjukkan rata-rata jumlah anak perempuan yang dilahirkan oleh seorang wanita selama masa hidupnya, dengan mengikuti pola fertilitas dan mortalitas yang sama seperti ibunya. Dalam reit reproduksi kasar (GRR) tidak memperhitungkan unsur kematian. Rumus perhitungan GRR yakni sebagai berikut.
GRR=5ASFRfx       atau GRR=rasio jenis kelamin saat lahirx TFR
Keterangan :
GRR      = Angka Reproduksi Bruto
ASFR    = Angka Fertilitas menurut Kelompok Umur
X            = Kelompok umur
F            = Penduduk perempuan
Kelemahannya :
Tidak memperhitungkan kemungkinan mati bayi wanita tersebut sebelum masa reproduksinya.

3.    Net Reproduction Rate/ NRR
Angka yang menunjukkan rata-rata jumlah anak perempuan yang dilahirkan oleh seorang wanita selama hidupnya dan akan tetap hidup sampai dapat menggantikan kedudukan ibunya, dengan mengikuti pola fertilitas dan mortalitas yang sama seperti ibunya. Ukuran reit reproduksi neto memperhitungkan pula unsur kematian. Adapun rumus perhitungannya sebagai berikut.
NRR=5x:15-1945-49ASFRnLxlx
Keterangan :
NRR      = Angka Reproduksi Neto
ASFR    = Angka Fertilitas menurut kelompok umur
X            = kelompok umur
F                        = penduduk perempuan
nLxlx          = rasio masih hidup sejak lahir hingga umur x

4.    Child Woman Rate/ CWR
Perbandingan antara jumlah anak dibawah umur 5 tahun dengan wanita usia reproduksi. Adapun rumus perhitungan CWR sebagai berikut.
CWR= P0-4P f(15-49) x k 
Keterangan :
P0-4= Jumlah anak dibawah usia 5 tahun
Pf(15-49) = banyaknya wanita umur 15-49 tahun
Kelebihan pengukuran CWR adalah tidak usah membuat pertanyaan khusus untuk mendapatkan data yang diperlukan, dan pengukuran ini berguna untuk indikasi fertilitas di daerah kecil sebab di negara yang registrasinya cukup baik pun, statistik kelahiran tidak ditabulasikan untuk daerah yang kecil-kecil.
Kelemahannya yakni langsung dipengaruhi oleh kekurangan pelaporan tentang anak, yang sering terjadi di negara sedang berkembang. Walaupun kekurangan pelaporan juga terjadi di kelompok ibunya namun secara relatif kekurangan pelaporan pada anak-anak jauh lebih besar. Selain itu juga dipengaruhi oleh tingkat mortalitas, di mana tingkat mortalitas anakm khususnya di bawah 1 tahun juga lebih besar dari orang tua, sehingga CWR selalu lebih kecil daripada tingkat fertilitas yang seharusnya dan CWR tidak memperhitungkan distribusi umur dari penduduk wanita.

2.4  Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Menentukan Fertilitas
Ada beragam faktor yang mempengaruhi dan menentukan fertilitas baik yang berupa faktor demografi maupun faktor non-demografi. Yang berupa faktor demografi diantaranya adalah struktur umur, umur perkawinan, lama perkawinan, paritas, distrupsi perkawinan dan proporsi yang kawin sedangkan faktor non-demografi dapat berupa faktor sosial, ekonomi maupun psikologi.

2.5 Standarisasi ukuran fertilitas
Teknik standarisasi yang digunakan  sama dengan  teknik standarisasi yang digunakan untuk pengukuran mortalitas. Kalau diketahui tingkat fertilitas menurut umur di negara A dan B, dan ingin dibandingkan tingkat fertilitas menurut umur dikalikan dengan jumlah penduduk standar dari masing-masing kelompok umur.

2.6 Pengaruh fertilitas terhadap masalah kesehatan






BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan dan saran
Kesimpulan
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seseorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fekunditas, sebaliknya, merupakan potensi fisik untuk melahirkan anak. Jadi merupakan lawan arti kata sterilitas. Natalitas mempunyai arti sama dengan fertilitas hanya berbeda ruang lingkupnya. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia. Sumber-sumber data fertilitas dapat diketahui melalui registrasi, sensus penduduk dan survei.
Pengukuran fertilitas memiliki dua macam pengukuran, yaitu pengukuran fertilitas tahunan dan pengukuran fertilitas kumulatif. Pengukuran fertilitas tahunan (vital rates) adalah mengukur jumlah kelahiran pada tahun tertentu yang dihubungkan dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan pada tahun tersebut. Sedangkan pengukuran fertilitas kumulatif adalah mengukur jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang wanita hingga mengakhiri batas usia subur.
Ada beragam faktor yang mempengaruhi dan menentukan fertilitas baik yang berupa faktor demografi maupun faktor non-demografi. Yang berupa faktor demografi diantaranya adalah struktur umur, umur perkawinan, lama perkawinan, paritas, distrupsi perkawinan dan proporsi yang kawin sedangkan faktor non-demografi dapat berupa faktor sosial, ekonomi maupun psikologi.






Saran
Demikianlah yang bisa kami sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasanmakalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya pengetahuan dan rujukan atau refrensi yang kami peroleh.sehubungan dengan makalah ini penulis banyak berharap kepada pembaca yang budiman memberikan kritik saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis para pembaca khusus pada penulis. Aamiin
























DAFTAR PUSTAKA

Hatmadji, Sri Harjati. 2004. Dasar-dasar Demografi. Edisi 2004. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta
Ida Bagoes Mantra. 2009. Demografi Umum. Edisi kedua. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Sri Rahayu Sanusi,SKM,Mkes. Masalah Kependudukan Di Negara Indonesia. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara

No comments:

Post a Comment